Part 1
Rintikan air mulai membasahi jalanan menuju Desa Rawamangun Adira Lisyana mengikuti setapak demi setapak jalan yang hanya terhubung oleh satu jalur Dira pun mulai membuka percakapan nya dengan warga desa yang ikut serta menjemputnya ke kota.
“Mas ini memang jalanny seperti ini klo hujan ya” Ucap Dira sambil sambil dengan teliti menapakan kaki memilih tempat kering untuk dilalui kakinya
“Ya beginilah neng desa terpencil akses jalan nya memang susah sudah beberapa kali kami mengajukan bantuan kepihak kecamatan tapi ya belum ada tanggapan lagi ” ucap pak tohir sambil memimpin jalan. Adira lisyana adalah mahasiswa lulusan jurusan pendidikan bahasa Universitas Padjadjaran berhasil diterima untuk menjadi pengajar muda bersama tiga teman lainnya yaitu Putra Siswanto, Gisyana Briliana dan Heru Gunawan.
Setelah sampai di Desa tersebut mereka disambut oleh kepala desa beserta para warga yang sangat antusias untuk melihat mereka, letak yang sangat jauh dari perkotaan membuat mereka merasa gembira bertemu dengan orang-orang baru
Next Part 2
Seluruh desa menyambut kedatangan para pengajar muda yang akan tinggal didesa tersebut selama 2 tahun, dilain sisi gisya nampak sedang memandang layar monitor hp, “Kenapa gis” tanya dira sambil memegang bahu Gisya,
“ternyata disini sinyalnya susah ya Dira, aku dari tadi mau menghubungi keluargaku tapi enggak terkirim” ucap Gisya sambil mengecek layar hpnya.
“hemz aku juga belum mengabarkan keluarga ku gisy, gimana kalau kita tanya kepala desa disini dimana tempat yang sinyalnya agak bagus” Ucap Dira sambil mencari Pak Karna yaitu kepala desa setempat.
“iya Dira ide bagus itu, nah itu bapaknya ” ucap gisya sambil menunjuk kearah kepala desa.
Setelah itu mereka menghampiri kepala desa dan mereka mendapat informasi bahwa para warga biasanya pergi kelapangan bola untuk mendapatkan sinyal yang bagus. Merekapun bergegas menuju lapangan agar cepat menghubungi keluarga mereka masing-masing. “Assalamualaikum Mah, Alhamdulillah aku sudah sampai mohon maaf mah di sini sinyalnya susah jadi aku sepertinya jarang untuk menghubungi” ucap Dira berbicara sambil memegang layar pipih yang menempel dipipinya
“Waalaikumsalam Nak, Alhamdulillah kamu sampai dengan selamat, jangan lupa sholat dan membaca al-qur’an nak serta jaga kesehatan disana ” Ucap Ibu Ajeng Setelah beberapa obrolan yang mereka bicarakan tiba-tiba raut wajah dira berubah menunduk lesu
“Nak, Bagaimana Lamaran yang diajukan oleh Pak Umar semasa kamu masih kuliah dulu”tanya ibu ajeng kepada putri pertamanya itu
“Insyaallah mah, beri aku waktu 3 hari untuk memberikan jawabannya ” ucap dira sambil menatap anak-anak yang sedang bermain bola dilapangan “Iya nak, mamah dan ayah tidak memaksa untuk kamu menerima atau menolak lamaran tersebut semua nya kami serahkan padamu nak pilihan ada padamu” ucap ibu ajeng
Umar Assauqi adalah salah seorang Profesor di Universitas Padjadjaran tempat Dira kuliah, Pak umar memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan semua anak-anak beliau sudah membangun keluarga masing-masing serta memiliki pekerjaan dan usaha akan tetapi Afnan Ibnu Assauqi anak bungu dari 4 saudara adalah satu2nya anak dari pak amir yang belum menikah dan lamaran yang ditujukan kepada Dira ialah untuk putranya afna
Afnan terpaut usianya lebih tua 2 tahun dibandingkan dira saat ini diri berusia 22 tahun sedangkan afna berusia 24 tahun
3 Hari Kemudian
“Assalamualaikum Mah, alhamdulillah Dira sudah mendapatkan jawabannya atas lamaran pak umar, insyaallah atas ridho dan izin mamah dan ayah Dira bersedia menerima lamaranya “ucap Dira
“Alhamdulillah sayang, ini jalan terbaik yang diberikan Allah nak”
